Top
Selasa, 28 November 2023 | Parenting

Setiap orang tua tentu ingin agar buah hatinya terhindar dari perilaku bullying. Mengedukasi Si Kecil adalah langkah yang baik sehingga ia memiliki keterampilan dalam mengidentifikasi perilaku bullying dan bisa mengambil langkah untuk mencegah dan mengatasi persoalan tersebut. Inilah beberapa cara sederhana untuk memperluas wawasan Si Kecil sehingga ia bisa terhindar dari perilaku yang merugikan ini: 1. Menjelaskan Makna Bullying Hal penting yang perlu Si Kecil pahami adalah tentang macam-macam bullying, yaitu bullying verbal, bullying fisik, dan cyberbullying. Ayah dan Bunda bisa memperkenalkan bullying sesuai dengan usia anak. Usia PAUD / TK (di bawah 6 tahun 6 bulan):- Belum menunjukkan perilaku bullying yang menjurus pada kekerasan fisik yang berat atau tindak kriminal.- Perilaku bullying terjadi dalam bentuk hal-hal yang sederhana.- Beberapa contohnya antara lain mengolok-olok tampilan fisik, merampas mainan, pilih-pilih teman, atau menghindari teman yang dianggap “aneh”.- Ayah dan Bunda bisa mengenalkan pentingnya menerima keberagaman, menghindari perilaku diskriminatif, dan mengajarkan kata-kata yang sopan dengan cara bermain dan aktivitas yang menyenangkan. Usia SD / Pendidikan Dasar (6 - 12 tahun)- Contoh perilaku bullying anak-anak usia ini adalah: menghina dengan kata-kata kasar / nada tinggi, mengolok-olok (terkadang secara beramai-ramai), menggosipkan hal-hal yang negatif pada teman, melakukan pemukulan, merampas barang, dan bahkan terkadang sudah menjurus pada tindak kekerasan.- Perlunya edukasi tentang makna toleransi dan pentingnya perilaku saling menghormati serta menghargai disertai dengan landasan hukum atau norma yang berlaku, misalnya Pancasila, UUD, atau aturan di lingkungan dengan penjelasan dan aktivitas yang membuat siswa belajar dengan metode learning by doing. 2. Mengembangkan Empati - Ayah dan Bunda perlu memberikan pemahaman tentang bagaimana memahami perasaan orang lain.- Si Kecil tentu ingin selalu merasa nyaman dan gembira. Maka, Ia juga perlu diajarkan tentang cara membuat orang lain merasa nyaman dan gembira.- Si Kecil juga perlu belajar tentang contoh-contoh perilaku atau kata-kata yang bisa membuat teman bersedih, kecewa, dan kurang nyaman. 3. Berikan Edukasi tentang Menyelesaikan Konflik dengan Baik - Ajarkan kepada Si Kecil tentang pentingnya komunikasi yang baik untuk mencegah konflik dan mengatasi konflik yang terjadi.- Berikan nasihat kepada Si Kecil bahwa kata-kata kasar atau perilaku kasar tidak akan menyelesaikan konflik, tapi malah bisa membuat konflik / persoalan semakin besar. 4. Mengajarkan Sikap Toleransi - Ajarkan kepada Si Kecil tentang aneka perbedaan, misalnya suku, agama, rasa, suku, dan lainnya. Si Kecil perlu memahami pentingnya saling menerima perbedaan dalam pertemanan.- Di mata Tuhan, semua manusia adalah sama. Si Kecil perlu memahami hal ini agar ia mampu memandang orang lain dengan sikap hormat dan mengasihi. 5. Ajarkan Pentingnya Berteman - Si Kecil perlu memahami bahwa hubungan pertemanan adalah suatu hal penting agar bisa saling membantu, menjaga, dan melindungi.- Namun, tentu saja Si Kecil perlu memiliki circle pertemanan yang baik dan positif, agar tumbuh menjadi anak yang baik dan berkembang ke arah yang positif. Dongeng di Bawah Ini Bisa Membantu Si Kecil Memahami Pentingnya Berteman   Koleksi Dongeng Selengkapnya Bisa Diunduh di Dalam Aplikasi RIRI (Cerita Anak Interaktif) 6. Ajarkan tentang Pentingnya Berbagi dan Bercerita - Ajak Si Kecil berkomunikasi dan bercerita mulai dari hal-hal yang sederhana, agar ia terbiasa berbagi dan mendapatkan bantuan secepatnya saat ia dalam persoalan, terutama saat ia mengalami suatu perundungan. 7. Menjadi Teladan / Role Model - Ajari Si Kecil cara berpenampilan atau berpakaian yang baik, berperilaku yang sopan, dan berkomunikasi yang santun, berempati, bisa membawa damai, dan sikap yang suka membantu agar ia lebih dihargai atau bahkan bisa menjadi contoh yang bagi teman-temannya. 8. Mengedukasi tentang Cara Bersikap Saat Menjadi Korban Bullying - Saat Si Kecil merasa sakit hati atau sedih karena suatu perkataan atau perilaku orang lain, maka ia harus segera menegur atau memberitahukan kepada orang dewasa yang dipercaya. 9. Ajarkan tentang Cara Bersosialisasi - Ajaklah Si Kecil dalam acara-acara yang melibatkan banyak orang, misalnya berkunjung ke tempat saudara, pesta pernikahan, dan lainnya, agar ia terbiasa bertemu orang baru dan berinteraksi dengan orang lain.- Dampingi Si Kecil agar bersedia bermain dengan teman sebaya, misalnya di komplek atau di dalam suatu komunitas. Mengajarkan anak Anda tentang pencegahan perundungan atau anti bullying sangat penting untuk membantu mereka menjadi individu yang peduli, berempati, dan memahami pentingnya menghormati orang lain. Semoga tips di atas bermanfaat! Sumber Referensi: 1. Stopbullying.gov. (2022). How to prevent bullying [1] 2. Apa.org. (2022). Prevent [2]

Kamis, 31 Agustus 2023 | Parenting

Ada banyak kejadian bisa terjadi di kelas. Salah satunya adalah saat anak didik mengalami tantrum di kelas PAUD. Dilansir dari My.clevelandclinic.org, dijelaskan bahwa tantrum adalah kondisi ketika seorang anak meluapkan kemarahan dan rasa frustasinya tanpa direncanakan. Tantrum bisa bersifat fisik, verbal, atau keduanya. Bagaimana cara menangani dan memberikan treatment yang tepat pada anak yang mengalami tantrum? Materi parenting ini perlu dipahami oleh guru PAUD. 1. Kontrol Emosi Guru itu Penting Pastikan guru bisa mengontrol emosi dan tetap tenang. Ketenangan hati seorang guru bisa membawa dampak positif bagi ketenangan emosi anak didik yang sedang tantrum. 2. Diamkan Sejenak Biarkan anak mengekspresikan diri, entah dengan cara menangis, marah, atau berteriak, hingga suasana hati anak menjadi lebih tenang. 3. Jauhkan Dari Siswa Lainnya Jauhkan anak didik yang mengalami tantrum dengan siswa lainnya untuk mengurangi resiko kontak fisik. Selain itu, anak yang mengalami tantrum membutuhkan tempat yang lebih tenang, tidak berisik, dan jauh dari perhatian siswa lainnya (keramaian). 4. Memberikan Atensi yang Positif Kebutuhan penting anak usia dini adalah perhatian. Banyak anak didik mengalami tantrum hanya karena mereka ingin diajak ngobrol, ingin diperhatikan, ingi disayang, atau ingin mencurahkan perasaannya. Guru perlu memberikan perhatian yang cukup. Namun, tidak perlu berlebihan atau tidak perlu bersikap ke arah memanjakan. 5. Pahami Pemicu Anak Mengalami Tantrum Beberapa anak yang mengalami tantrum terkadang disebabkan oleh suatu peristiwa buruk di masa lalu. Pahami suasana, benda, atau hal lain yang bisa menyebabkan seorang anak didik mengalami tantrum dan hindarkan ia dari hal-hal atau benda-benda tersebut. Baca juga: Kenalkan Aneka Emosi ke Anak, Ternyata Manfaatnya Luar Biasa 6. Ajarkan Cara Mengelola Emosi secara Positif Ada aneka cara agar anak mampu mengelola emosi secara positif, misalnya:- Memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bercerita atau mengungkapkan “uneg-unegnya”.- Melakukan teknik pengaturan nafas, misalnya dengan cara menghirup nafas pelan-pelan, lalu dihembuskan secara perlahan.- Memberikan waktu kepada anak yang tantrum untuk menenangkan diri.- Melakukan aktivitas yang ia sukai atau aktivitas menyenangkan lain. 7. Memperhatikan Kesehatan Mental Diri Sendiri Menghadapi anak yang tantrum, apalagi anak yang spesial, membutuhkan waktu, tenaga, dan emosi yang ekstra. Hal ini bisa memicu terjadinya kelelahan tubuh, kelelahan mental, atau bahkan mengalami stres. Baca juga: 5 Cara Praktis Melatih Anak Agar Terampil Mengelola Stres Guru yang sering menghadapi anak tantrum membutuhkan waktu untuk melakukan kegiatan me time, rekreasi, dan relaksasi. Kehidupan doa dan aktivitas beribadah yang baik sangat diperlukan. 8. Mengenali Jenis-Jenis Anak Spesial yang Mudah Mengalami Tantrum Tantrum adalah hal yang biasa terjadi pada anak usia dini. Namun, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus tentu membutuhkan treatment khusus. Kenali jenis-jenis anak spesial, terutama yang mudah mengalami tantrum, dan kenali cara memberikan penanganan yang tepat bagi setiap anak spesial. 9. Mengajarkan Pentingnya Mengelola Emosi dengan Media Menarik Jelaskan kepada anak didik bahwa setiap orang perlu memiliki pengelolaan emosi yang baik. Berikan pemahaman kepada anak didik bahwa pengelolaan emosi yang baik bisa membuat seseorang disukai banyak orang, mencegah terjadinya hal-hal buruk, dan sesuai dengan ajaran agama. Salah satu media menarik yang bisa dimanfaatkan adalah media dongeng edukasi atau kisah Nabi. Inilah salah satu kisah Nabi yang cocok untuk diajarkan kepada anak didik. Unduh Aplikasi KABI (Kisah Teladan Nabi) dengan Meng-klik Gambar di Bawah Ini: Sumber Referensi:1. Freepik.com (2022). Close up mother kid hugging [1]2. My.clevelandclinic.org. (2022). Temper tantrums [2]

Kamis, 03 Agustus 2023 | Parenting

Sejak usia dini, anak perlu belajar tentang cara mengekspresikan diri dan perasaannya. Dilansir dari Expressable.com, dijelaskan bahwa membantu anak mengungkapkan perasaannya bermanfaat untuk mengurangi rasa frustasinya. Hal ini juga dapat mengurangi masalah perilaku dan juga meningkatkan kestabilan emosinya. Berikut ini adalah 6 cara membiasakan Si Kecil agar semakin mampu bersikap terbuka, tidak terlalu tertutup, dan mampu mengekspresikan perasaannya. 1. Ayah dan Bunda perlu Aktif Bertanya Ajak Si Kecil Berdiskusi tentang Video Kisah Nabi, Yuk! Ketika Si Kecil terlihat sedih, Ayah dan Bunda perlu aktif bertanya. Misalnya dengan bertanya, “Kenapa Adik bersedih? Apakah Adik mau bercerita?” Lakukan dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Kemudian, Ayah dan Bunda bisa membantu memberikan solusi. Kebiasaan ini akan membuat Si Kecil lebih mampu terbuka, sekecil apa pun persoalan yang sedang ia alami. Ingat, persoalan besar bisa terjadi karena persoalan kecil yang tidak segera terselesaikan. Baca juga: 1. Tips Melatih Ketrampilan Bercerita pada Anak Usia Dini 2. 7 Tips Agar Anak Terampil Berbicara dengan Tata Bahasa yang Baik 2. Memberikan Pemahaman Pentingnya Ketenangan Hati Bila anak mengekspresikan perasaannya secara negatif, misalnya dengan amarah dan emosi yang tidak terkendali, Ayah dan Bunda bisa meminta Si Kecil untuk menenangkan hati terlebih dahulu. Beberapa cara yang cukup efektif adalah: Memintanya beristirahat (tidur) terlebih dahulu. Memberi waktu padanya untuk berdiam di ruangan yang tenang dan nyaman. Memberi kesempatan pada Si Kecil untuk mengatur nafas. Baca juga: 5 Cara Praktis Melatih Anak Agar Terampil Mengelola Stres Setelah emosi Si Kecil lebih stabil, berikan kesempatan padanya untuk bercerita dan mengungkapkan perasaaannya. Lagu SELAMAT MALAM: Bisa Menenangkan Hati Si Kecil Saat Hendak Terlelap   3. Ayah dan Bunda juga Perlu Bersikap Tenang Ayah dan Bunda perlu menguasai diri, terutama saat Si Kecil dalam keadaan emosi yang kurang stabil. Ketenangan hati, kesabaran, dan pengendalian diri sangatlah penting bagi Ayah dan Bunda. Bila Ayah dan Bunda bisa bersikap tenang dan sabar, niscaya Si Kecil akan lebih mampu melakukan hal yang sama. Positive vibes yang terbangun dalam hati Ayah dan Bunda, akan menular pada diri Si Kecil. Kenyamanan inilah yang akan membuat Si Kecil mampu bersikap terbuka untuk menceritakan segala persoalan yang ia alami. 4. Berikan Kesempatan Si Kecil untuk Menentukan Solusi Saat Si Kecil ada dalam persoalan, tugas Ayah dan Bunda tidaklah harus memberikan solusi. Ayah dan Bunda bisa memberikan kesempatan kepada Si Kecil untuk menentukan solusinya secara mandiri. Ayah dan Bunda juga bisa membantu Si Kecil dengan cara memberikan opsi. Biarkan Si Kecil menentukan opsi mana yang terbaik. Pembiasaan ini bisa melatih anak agar bisa lebih terampil dalam mengambil keputusan. Baca juga: Anak-Anak Gen Z: Ciri, Kelebihan, Kekurangan, Cara Mendidiknya 5. Menanggapi Setiap Curhatan dengan Empati dan Kesungguhan Hati Walaupun Si Kecil masih berusia dini, Ayah dan Bunda perlu menanggapi setiap cerita dan curahan hati Si Kecil dengan empati dan kesungguhan hati. Hal ini akan membuat Si Kecil merasa dihargai dan tidak merasa diremehkan, sehingga Si Kecil akan lebih percaya diri dalam mengungkapkan perasaannya, baik kepada guru maupun kepada Ayah dan Bunda. Aplikasi RIRI, Cerita Anak Interaktif: Dongeng Pembangun Karakter, Fabel, Cerita Rakyat, dan Dongeng Mancanegara, Semua Ada di Sini.   6. Mengajarkan Jenis-Jenis Emosi Dongeng RIRI: Legenda Batu Menangis. Media Membantu Anak Belajar Mengenal Emosinya. Si Kecil kadang masih perlu belajar mengenal jenis-jenis emosi, misalnya sedih, gembira, marah, menangis, dan lainnya. Ayah dan Bunda juga perlu memberikan cara menyikapi setiap emosi. Misalnya saat sedang marah, Ayah dan Bunda perlu menjelaskan kepada Si Kecil perlunya menenangkan hati dan tidak perlu banyak berkata-kata. Karena saat marah kadang kata-kata yang kita keluarkan, bisa menyakiti hati orang lain. Baca juga: Kenalkan Aneka Emosi ke Anak, Ternyata Manfaatnya Luar Biasa Demikian 6 cara membiasakan anak mampu mengekspresikan diri. Semoga bermanfaat! Sumber Referensi: 1. Expressable.com. (2021). Social emotional academic how to help children express their feelings [1] 2. Freepik.com (2022). Medium shot father kid [2]    

Jumat, 28 Juli 2023 | Edukasi

Apakah Ayah Bunda termasuk orangtua yang overprotektif? Dilansir dari Healthshots.com, dijelaskan bahwa pola asuh yang terlalu protektif berarti melindungi anak Anda dari kesedihan, kegagalan, bahaya, rasa sakit, penolakan, frustrasi, tantangan, kebencian, dan emosi negatif lainnya. Dipaparkan pula bahwa memantau perilaku mereka (secara berlebihan) dapat merusak perkembangan fisik, emosional, dan mental mereka secara keseluruhan. Misalnya, mencatat apa yang mereka makan, mengatur pertemanan mereka, menghukum mereka karena nilai buruk, melanggar privasi mereka, mengatur kegiatan ekstrakurikuler mereka, dan sebagainya. Baca juga: Orang Tua Perlu Memahami 6 Hal Ini Agar Makin Hebat Mengasuh Anak Apa saja dampak-dampak negatif dari pola asuh overprotektif bagi anak? 1. Kurang Mandiri dalam Mengatasi Masalah Karena orang tua selalu terlibat dalam setiap persoalannya ia menjadi sering merasa tertekan. Ia menjadi kurang mampu mengatasi persoalan pribadinya secara mandiri, meskipun itu hanyalah persoalan kecil. Kembangkan Kemandirian Si Kecil dengan Media Dongeng   2. Cenderung Kerap Berkata Tidak Jujur Orangtua overprotektif sering memberikan konsekuensi berupa hukuman pada anak. Orang tua juga cenderung mengekang ruang gerak anak, serta kurang memberikan kebebasan kepada anak untuk mengatasi masalah sendiri atau mengembangkan dirinya. 3. Anak Menjadi Mudah Cemas Orangtua yang terlalu protektif biasanya memiliki sifat yang mudah cemas. Sifat ini juga akan mudah menular pada diri anak. Anak sering merasa ragu akan kemampuannya untuk mengatasi persoalannya sendiri, meskipun itu hanyalah persoalan yang sederhana. 4. Mudah Merasa Depresi Karena rasa cemas yang berlebihan dan mental yang lemah, maka ia mudah merasa depresi, terutama ketika berada dalam persoalan yang berat atau masalah yang datang bertubi-tubi serta mengganggu zona nyamannya. KABI (Kisah Nabi): Aplikasi interaktif kisah-kisah 25 Nabi dalam Islam. Sangat cocok bagi anak Muslim untuk belajar mengenal nabi-nabi serta kisahnya dalam menyebarkan agama Allah dan bermanfaat untuk perkembangan karakter anak.   5. Memiliki Kepercayaan Diri yang Lemah Orangtua yang overprotektif sering memasang badan dalam setiap persoalan anak. Anak menjadi kurang berani dalam mengambil keputusan dan merasa kurang percaya dengan kemampuannya dalam mengatasi masalah. Ia sering merasakan ketakutan yang berlebihan, terutama takut mengalami kegagalan atau membuat kesalahan. Kesalahan kecil bisa menjadi suatu persoalan yang besar baginya. 6. Tumbuh Menjadi Pribadi yang Arogan Kurangnya empati orangtua kepada anak, kurangnya kesabaran saat menasihati anak, apalagi pemberian hukuman fisik kepada anak membuat anak tumbuh menjadi pribadi arogan, suka mengatur orang lain (dan cenderung tidak mau diatur), dan kurang berempati. 7. Keterampilan Bersosialisasi yang Lemah Karena ia merasa selalu dikendalikan oleh orang tuanya dan merasa takut membuat orangtuanya marah, maka perkembangan keterampilan sosialnya menjadi lemah. Ia merasa kesulitan berkomunikasi serta berinteraksi dengan orang lain. 8. Berdampak Buruk Bagi Kecerdasan Anak Ketika ia mulai sering merasa cemas dan mengalami gangguan kesehatan mental, ia juga akan mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi. Padahal, kemampuan berkonsentrasi sangat dibutuhkan saat anak sedang belajar. Hal ini akan membuat kecerdasan anak kurang berkembang secara optimal. Baca juga:1. Modul Ajar dan RPPH PAUD - TK, Topik : Mengenal Bendera Indonesia - Kurikulum Merdeka Belajar2. Modul Ajar dan RPPH PAUD - TK, Topik : Meneladan Bapak Proklamator - Kurikulum Merdeka Belajar Orangtua memang memiliki kewajiban menjaga anak-anaknya. Namun, tentu saja bila terlalu protektif akan bisa membawa dampak yang negatif bagi Si Kecil. Terkadang Ayah dan Bunda perlu memberikan kebebasan kepada Si Kecil. Namun, Ayah dan Bunda juga perlu memberikan aturan-aturan serta batasan-batasan yang tidak terlalu mengekang. Lagu ANAK YANG BAIK: Bagus untuk Menumbuhkan Akhlak Mulia Anak   Ayah dan Bunda juga perlu sesekali memberikan tugas atau tanggung jawab yang sesuai dengan perkembangan anak, meskipun hanyalah tanggung jawab yang sederhana. Misalnya, Ayah dan Bunda perlu memberikan waktu bagi Si Kecil untuk bermain bebas (tidak terlalu banyak aturan), memberikan kesempatan kepada Si Kecil untuk merapikan tempat tidurnya secara mandiri, memberikan kesempatan kepada Si Kecil untuk menemukan solusi secara mandiri saat ia mengalami suatu persoalan, dan lainnya. Sumber Referensi: 1. Freepik.com (2022). Abusive parent tries hit his kid [1] 2. Healthshots.com. (2022). 5 negative effects of overprotective parenting and why you must avoid it [2]  

Senin, 24 Juli 2023 | Parenting

Dilansir dari Britannica.com, dijelaskan bahwa Generasi Z, juga disebut Gen Z, zoomers, iGeneration, centennials, post-millennials, atau Homelanders, istilah yang digunakan untuk menggambarkan orang Amerika yang lahir pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Fenomena anak gen z tidak hanya ditemukan di Amerika. Namun, fenomena ini juga terjadi di Indonesia serta seluruh penjuru dunia. Generasi ini sangat mahir dalam penggunaan teknologi dan internet. Karena sangat aktif dalam menggunakan teknologi, anak-anak gen z memiliki kepribadian yang unik dan berbeda dari zaman-zaman sebelumnya. Yuk, Ajarkan Anak-Anak Gen Z agar Tetap Cinta Budaya Tradisional dengan Memberikan Video Dongeng di Bawah Ini     A. Ciri-Ciri Anak Gen Z 1. Aktif Berkomunikasi di Dunia Maya Whatsapp, Facebook, dan Instagram adalah beberapa aplikasi yang sudah akrab digunakan oleh anak-anak gen z. Aplikasi-aplikasi ini sangatlah praktis, bisa dimanfaatkan dengan menggunakan gadget dan bisa menjangkau hingga jarak yang sangat jauh. 2. Cakap Memanfaatkan Teknologi Masa Kini Ada banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan oleh anak-anak gen z untuk mengembangkan kreativitas dan produktivitas mereka. Media teknologi juga banyak dimanfaatkan oleh anak-anak gen z sebagai sarana belajar dan hiburan, yang bisa digunakan kapan saja dan di mana saja. 3. Mandiri Karena memiliki akses untuk menjelajah aneka bidang ilmu meski hanya di satu tempat (misalnya di rumah), anak-anak gen z memiliki pengetahuan yang sangat luas. Segala persoalan-persoalan hidup seakan-akan bisa diselesaikan secara mandiri hanya dengan bertanya pada “mesin pencari”. Segala ilmu pengetahuan bisa mereka pelajari secara mandiri hanya dengan menonton video di platform-platform dan media-media sosial. Baca juga:  7 Kiat Mengembangkan Karakter Anak yang Mandiri dan Tangguh 4. Terbuka Anak-anak gen z bisa mendapatkan banyak informasi tentang aneka kebudayaan dan kebhinekaan yang ada di seluruh penjuru dunia hanya dengan memainkan gadget.  Mereka bisa menemukan sisi positif dari segala kemajemukan yang ada di dalam diri umat manusia, sehingga bisa melihat sisi baik dari setiap pribadi. Anak-anak gen z mampu terbuka dalam memandang kebhinekaan dalam diri setiap insan dan bisa menilai seseorang dari beberapa sudut pandang. B. Kelebihan Anak-anak Gen Z Fasilitas teknologi membuat anak-anak gen z bisa belajar kapan pun dan di mana pun. Hal ini mambuat anak-anak gen z memiliki intelektualitas yang optimal, pengetahuan yang luas, bersikap terbuka, mampu menerima perbedaan, mandiri, dan dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu (multi-taksing). Mau Mendapatkan Penghasilan Tambahan?Program Afiliasi Educa menawarkan penghasilan pasif, hanya dengan membagikan kode afiliasi yang kamu miliki.   C. Kekurangan Anak-Anak Gen Z Bila anak-anak gen z tidak mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, anak-anak gen z bisa tumbuh menjadi anak yang individualis, egois, dan anti-sosial. Bahkan, anak-anak gen z bisa mengalami gangguan kesehatan mental, misalnya mudah cemas, memiliki emosi yang labil, dan sulit untuk beradaptasi. Hal ini biasanya terjadi karena kurangnya kontrol dan pengawasan dari orang tua dalam hal penggunaan teknologi.   Untuk Mengembangkan Kecerdasan dan Karakter Siswa, Anda bisa Mengajak Siswa Membaca Buku Cetak (Dongeng, Kisah Nabi, dan Aktivitas Anak) karya Bapak Andi Taru dan Tim Educa Studio. Silakan klik DI SINI.   D. Cara Mendidik Anak-Anak Gen Z 1. Mengajak Berinteraksi Ayah dan Bunda memulainya dari hal-hal kecil, misalnya menyapa anak dan mengajak anak mengobrol hal-hal yang sederhana. Ayah dan Bunda juga bisa mengajak anak bermain bersama dan menceritakan dongeng-dongeng yang menarik dan edukatif. Baca juga: Aktivitas di Satuan PAUD untuk Mengembangkan Keterampilan Sosial-Emosional 2. Mendorong Anak Aktif Bersosialisasi Aktivitas sosial yang bisa dilakukan oleh anak-anak adalah bermain bersama, mengunjungi rumah saudara, melakukan kegiatan amal, dan lainnya. Aktivitas-aktivitas tersebut dapat mengembangkan kecerdasan sosial dan mengasah empati anak. 3. Mengajarkan Kemandirian Aktivitas pengembangan kemandirian yang perlu diajarkan kepada anak adalah meminta anak merapikan mainannya sendiri, membersihkan kamarnya sendiri, mengenakan baju sendiri, dan lainnya. Selain mengembangkan kemandirian, aktivitas-aktivitas ini juga dapat melatih motorik halus dan kasar anak yang kurang berkembang maksimal saat mereka sibuk dengan gadget, PC, atau laptop. 4. Mengembangkan Keterampilan Bernalar Kritis dan Membuat Keputusan Beri kesempatan pada anak untuk memilih atau menentukan menu makan malam, baju yang akan dipakai saat hangout, dan solusi saat ada dalam suatu persoalan yang sederhana. Saat anak melakukan kesalahan, jangan serta-merta menyalahkan. Beri kesempatan kepada anak untuk merenung (introspeksi diri) dan memperbaiki diri, sehingga ia mampu belajar dari suatu kesalahan dan memahami cara memperbaiki diri. 5. Membimbing Anak dalam Memanfaatkan Teknologi Dorong anak agar bisa menggunakan gadget secara positif, yaitu sebagai media belajar dan berkreativitas. Pastikan pula sang buah hati mendapatkan hiburan yang sehat serta ramah anak. Pendampingan kepada anak dalam pemanfaatan teknologi juga sangat penting agar tidak mengalami kecanduan gim atau mengonsumsi konten-konten yang “tidak sehat”. Sumber Referensi 1. Freepik.com. (2022). Young boy using smart phone tablet [1] 2. Britannica.com. (2023). generation z [2]  

Kamis, 15 Juni 2023 | Parenting

Pola asuh yang Ayah dan Bunda lakukan saat ini akan sangat mempengaruhi karakter Si Kecil di masa depan. Bagi Ayah dan Bunda yang saat ini memiliki anak laki-laki, tentu ingin agar ia tumbuh menjadi anak yang gentle serta mampu menghargai lawan jenisnya. Video Marbel Diriku: Media Belajar Pengenalan Gender   Inilah pola asuh yang bisa Ayah dan Bunda aplikasikan kepada putra Anda agar ia tumbuh menjadi anak yang mampu bersikap lembut dan tidak bersikap kasar kepada perempuan.   Unduh aplikasi "MARBEL Pelajaran TK dan PAUD" dengan klik gambar di atas. 1. Ayah Harus Bisa Menjadi Role-Model Sikap inilah yang paling penting dan perlu ada dalam diri seorang ayah. Ayah harus bisa menjadi role-model atau teladan yang baik bagi Si Kecil agar bisa bersikap gentle kepada perempuan. Ayah harus bisa memperlakukan Bunda dengan baik, hormat, dan penuh kasih sayang. Baca juga: Anak Bicara Kurang Sopan? Ini Cara Mencegahnya Si Kecil akan mencontoh apa yang ia lihat dan ia dengarkan. Perlakuan yang baik Ayah kepada Bunda, dan cara berbicara yang sopan Ayah kepada Bunda akan dilihat, didengar, diingat, dan diaplikasikan Si Kecil dalam hidup sehari-hari. Si Kecil akan memahami cara menghargai dan menjaga perasaan seorang wanita. Educa Studio hadir memberikan DISKON SPESIAL 30% untuk berlangganan aplikasi tersayang Belajar TK PAUD bersama Marbel, RIRI - Cerita Anak Interaktif, dan KABI - Kisah Nabi dan Buku Islam. Ambil promonya dengan klik gambar di bawah.   2. Perhatikan Cara Berbicara Bunda kepada Anak Laki-Laki Tips ini khusus untuk Bunda. Bunda perlu mengajarkan dan membuat Si Kecil memahami sifat-sifat seorang wanita, yaitu bahwa wanita memiliki perasaan yang lembut dan suka diperlakukan secara lembut. Bagaimana caranya? Tentu saja, Bunda harus membiasakan diri untuk berkomunikasi dengan anak laki-laki dengan suara yang lembut, menggunakan bahasa yang sopan, serta menhindari kata-kata kasar apalagi dengan cara membentak. Baca juga: 6 Keterampilan Sosial yang Harus Dimiliki Anak Usia Dini Dalam kehidupan sehari-hari, anak laki-laki akan semakin mampu memperlakukan teman-teman perempuannya dengan baik, sopan, dan lemah lembut. Ia tahu bahwa perempuan memiliki sifat yang lembut dan sensitif. 3. Hindari Pertengkaran di Depan Si Kecil Jangan sampai Ayah dan Bunda lepas kendali. Saat emosi sudah memuncak, sebaiknya Ayah dan Bunda bisa menguasai diri. Hindarilah kata-kata kasar dan nada yang tinggi diucapkan di depan Si Kecil. Pastikan bahwa segala persoalan bisa terselesaikan dengan cara yang baik, bijaksana, penuh kasih sayang, serta menghindari pertengkaran di depan Si Kecil. Ayah, sebagai sosok pemimpin atau kepala dalam keluarga, harus bisa menguasai diri agar tidak berperilaku kasar kepada sang Bunda, apalagi di hadapan Si Kecil. Dongeng Riri Berjudul “Kancil dan Buaya” : Menumbuhkan Karakter Anak dengan Cara Menyenangkan   4. Mengedukasi Si Kecil tentang Gender Ayah dan Bunda bisa mendidik anak laki-laki Anda dengan media-media menarik yang banyak dirilis di platform-platform terkemuka, misalnya di Youtube. Di dalam platform Youtube, Ayah dan Bunda bisa menemukan aneka video edukasi yang mengajarkan tentang perbedaan laki-laki dan perempuan. Hal penting yang perlu Si Kecil pahami adalah perbedaan fisik dan emosi antara laki-laki dan perempuan, serta kesetaraan gender (laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama). 5. Memberikan Pengawasan kepada Apa yang Si Kecil Baca dan Tonton Pastikan Ayah dan Bunda memberikan pengawasan yang ekstra pada apa yang Si Kecil konsumsi melalui buku bacaan, gawai, atau televisi. Tontonan dan bacaan bertema kekerasan, baik secara verbal maupun visual perlu dihindarkan dari Si Kecil. Untuk Mengembangkan Kecerdasan dan Karakter Siswa, Anda bisa Mengajak Siswa Membaca Buku Cetak (Dongeng, Kisah Nabi, dan Aktivitas Anak) dari Educa Studio. Silakan klik DI SINI.   6. Memberikan Keterampilan Bersosialisasi Keterampilan bersosialisasi yang penting dan perlu dikuasai oleh Si Kecil adalah tentang cara bertindak dan berkata-kata. Pastikan ia bisa berperilaku dan berkata-kata yang sopan, serta menghindari segala hal yang menjurus ke arah anarkis, demi bisa bersikap gentle kepada perempuan. Baca juga: Cara Mengasah Jiwa Empati Anak di Era Digital Tanamkan di dalam diri Si Kecil bahwa ia akan mendapatkan perlakukan yang baik dari orang lain, bila ia mampu berperilaku yang baik kepada sesamanya. Koleksi Lagu Anak Tematik TK dan PAUD: Media Belajar Efektif dengan Mengajak Siswa Bernyanyi dan Menari 7. Membiasakan Si Kecil Agar Mampu Mengekspresikan Perasaannya Secara Positif Ayah dan Bunda perlu menjadi tempat ternyaman bagi Si Kecil untuk bisa bercerita dan mengungkapkan segala perasaan Si Kecil. Berikan pula respon yang positif saat Si Kecil bercerita dan berusaha membantu menyelesaikan segala persoalan yang sedang ia hadapi. Bila anak laki-laki mampu memperlakukan Bundanya dengan baik dan sopan, tentu ia akan tumbuh menjadi yang mampu bergaul dengan siapa saja. Ia akan semakin mampu berempati dan menghargai orang lain, termasuk gentle kepada perempuan, secara tulus dan mudah diterima saat bergaul dengan siapa saja. Semoga bermanfaat! Bantu Optimalkan Skill dan Kreativitas Si Kecil Sejak Dini bersama Kelas Kreatif Gamelab.id   Sumber Referensi: 1. Freepik.com. (2022). Children participating treasure hunt outside [1]  

    • ...