Top
Senin, 18 November 2024 | Edukasi

Ikatan sosial adalah segala sesuatu yang melibatkan hubungan antara individu dengan kelompok sosial. Ikatan ini dapat membawa masyarakat menuju kesatuan dan persatuan, juga mencegah terjadinya konflik. Dalam konteks masyarakat, ikatan sosial memiliki peranan yang cukup penting dan mendasar. Oleh karena itu, orang tua perlu mengajarkan anaknya untuk memperkuat ikatan sosial mereka sejak usia dini.  Sebab, ikatan sosial inilah yang nantinya akan menjadi modal utama bagi anak untuk bersosialisasi, berinteraksi, juga berkomunikasi dengan sesamanya. Lantas, bagaimana cara memperkuat ikatan sosial anak sejak usia dini? Cara memperkuat ikatan sosial Ikatan sosial adalah keterampilan interpersonal yang mengikat individu dalam kehidupan bersama, di mana hal tersebut dapat memberi manfaat emosional atau praktis bagi semua orang yang terlibat di dalamnya. Baca juga: Tips Mengembangkan Kebiasaan Membaca Anak bersama Riri Cerita Anak Interaktif Ada beberapa manfaat di balik ikatan sosial yang kuat, yakni membina pemikiran yang lebih kreatif dan inovatif, menciptakan rasa kebersamaan, mengurangi risiko depresi, hingga meningkatkan motivasi dan kinerja yang lebih baik. Karena menghubungkan individu dan masyarakat, ikatan sosial ini bisa melemah, menguat, bahkan bersifat laten (tidak terlihat), tergantung pada tingkat pertukaran juga interaksi antarpihak yang terlibat di dalamnya. Mengajak anak senantiasa terlibat dalam aktivitas bersama dalam lingkup keluarga dan masyarakat, merupakan salah satu cara memperkuat ikatan sosial. Tak hanya itu, berikut beberapa cara memperkuat ikatan sosial: Ajak anak menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekitarnya Latih anak untuk selalu berpikir terlebih dahulu, sebelum berbicara atau bertindak Ajak anak meluangkan waktunya bersama orang lain, bisa dimulai dari keluarga inti, keluarga besar, teman-teman, hingga masyarakat luas Latih anak untuk menjalin komunikasi yang baik, agar empati dan kepercayaannya bertumbuh Ajak anak menggunakan teknologi dengan bijak dan tepat. Baca juga: Buat Pembelajaran yang Menyenangkan untuk Anak Usia Dini bersama Riri Cerita Anak Interaktif Cara memperkuat ikatan sosial anak dengan Riri Cerita Anak Interaktif Dari penjelasan di atas, kita bisa melihat bahwa sebenarnya, cara memperkuat ikatan sosial anak, yakni dengan mengajak mereka terlibat langsung dalam kegiatan bersama di lingkungan keluarga juga masyarakat. Untuk itu, Educa Studio menghadirkan solusi tepat bagi ayah bunda yang ingin menumbuhkan juga memperkuat ikatan sosial anaknya sejak usia dini, dengan memanfaatkan gim Riri Cerita Anak Interaktif. Ayah bunda perlu tahu, Riri Cerita Anak Interaktif adalah kumpulan cerita anak yang cocok untuk anak usia 2 hingga 6 tahun. Riri berisi ratusan cerita ramah anak yang tidak hanya menghibur, namun, juga mengedukasi. Dengan mengajak si kecil membaca Riri Cerita Anak Interaktif bersama ayah, bunda, atau anggota keluarga lainnya, hal itu sama saja dengan melatih dan memperkuat ikatan sosial anak sejak usia dini. Baca juga: Bersama Riri Cerita Anak Interaktif, Kembangkan Imajinasi Anak Selain mengajaknya membaca bersama, cara memperkuat ikatan sosial anak dengan Riri Cerita Anak Interaktif adalah mengajak mereka menemukan pesan moral atau nilai-nilai positif, yang bisa diambil dari cerita tersebut. Pesan moral seperti kebersamaan, kekeluargaan, gotong royong, rajin menolong atau membantu orang lain, serta persahabatan, bisa menjadi nilai-nilai positif yang dapat memperkuat ikatan sosial anak di lingkungan masyarakat. Riri Cerita Anak Interaktif adalah alat yang efektif dan solutif untuk memperkuat ikatan sosial anak usia dini. Lewat beragam cerita yang menarik dan mengedukasi, anak akan mempelajari banyak hal tentang nilai-nilai sosial, mulai dari empati dan kerja sama, hingga komunikasi. Yuk Ayah Bunda, segera download Riri Cerita Anak Interaktif di Google Play Store dan iOS sekarang juga! Baca juga: Kenalkan Budaya Indonesia kepada Anak dengan Riri Cerita Anak Interaktif Sumber referensi: Pijar, Satyo. Aktivitas Sosial: Motivasi Membangun Hubungan Sosial. (2023). Yogyakarta: Cahaya Harapan Seraj, Mina. Toker, Aysegul. Handbook of Research on Business Social Networking: Organizational, Managerial, and Technological Dimensions. (2012). Togetherplatform.com. Social Ties: Why Employees Need Strong Connections at Work. (2022). Tanggal akses 18 November 2024.

Rabu, 09 Oktober 2024 | Edukasi

Kesadaran sosial menjadi satu hal terpenting yang harus ditumbuhkan anak sejak usia dini. Sebab, kesadaran sosial berkaitan dengan hubungan individu dan lingkungan atau kelompok sosialnya. Pengertian kesadaran sosial adalah pemahaman individu terkait peran dan posisi mereka dalam masyarakat, yang dibentuk oleh berbagai faktor sosial. Misal, pengetahuan anak tentang rasa empati akan membuat mereka sadar dan paham soal sikap empati. Bisa juga diartikan bahwa kesadaran sosial adalah refleksi pemahaman individu soal peran serta posisi mereka dalam masyarakat, yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup, latar belakang sosial, juga kepercayaan mereka. Sejatinya, kesadaran sosial ini memengaruhi pembentukan karakter dan nilai-nilai yang akan membimbing individu dalam kehidupannya. Oleh sebab itu, kesadaran sosial dibutuhkan dalam kehidupan manusia, sebagai satu bagian yang tidak dapat dipisahkan. Baca juga: Bekali Pengetahuan Agama Islam Anak dengan Kabi dari Educa Studio Cara menumbuhkan kesadaran sosial anak Berikut cara menumbuhkan kesadaran sosial anak: Mendengarkan dengan perasaan empati Cara menumbuhkan kesadaran sosial anak yang pertama, yakni mendengarkan orang lain berbicara dengan empati. Misal, ketika teman sedang menceritakan kesuksesan atau kebahagiaannya, kita juga harus memperlihatkan ekspresi bahagia. Menghargai perbedaan yang ada Kesadaran sosial anak bisa ditumbuhkan dengan mengajari mereka bertoleransi. Ajarkan mereka bahwa apa pun agama, suku, dan rasnya, kita harus menghormati dan menghargainya dengan sikap toleransi. Turut serta dalam kegiatan sosial  Orang tua bisa mengajak anak untuk turut serta dalam kegiatan sosial, demi menumbuhkan kesadaran sosial anak. Contoh, orang tua bisa mengajak anak untuk terlibat dalam kegiatan sosial, atau membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan. Beri dukungan kepada mereka yang membutuhkan  Cara menumbuhkan kesadaran sosial anak, yakni mengajak mereka untuk memberi dukungan sosial kepada mereka yang membutuhkan. Ajarkan anak untuk memberi dukungan emosional atau sosial kepada orang lain, misalnya dengan mengucapkan “terima kasih”, “maaf”, dan “tolong”. Baca juga: Kabi sebagai Media Digital untuk Belajar Agama Cara menumbuhkan kesadaran sosial anak dengan Kabi Kisah Teladan Nabi Untuk menumbuhkan kesadaran sosial anak, dibutuhkan partisipasi aktif dari orang tua dan kerja sama dari lingkungan keluarga. Selain cara di atas, orang tua dan keluarga juga bisa menumbuhkan kesadaran sosial anak dengan gim Kabi - Kisah Teladan Nabi. Berikut cara menumbuhkan kesadaran sosial anak dengan Kabi Kisah Teladan Nabi: Ajak anak membaca berbagai kisah dalam gim Kabi Orang tua bisa mengajak anak mengakses dan membaca kisah-kisah dalam gim Kabi, seperti Kisah Teladan Islam, Kisah Sahabat Nabi, Seri Edukasi Muslim, Kisah Wanita Hebat, serta Kisah Tokoh Islam. Selain meningkatkan keimanan dan ketakwaan anak terhadap ajaran agama Islam, Kabi juga bisa dijadikan sebagai media atau sarana menumbuhkan kesadaran sosial anak. Karena Kabi memiliki segudang pesan moral yang bisa diambil dan dipelajari. Baca juga: Ajarkan Nilai-nilai Moral Agama Islam kepada Anak Usia Dini dengan Kabi Ajak anak untuk berani menyuarakan apa pesan moral yang didapatnya  Selanjutnya, cara menumbuhkan kesadaran sosial anak, yaitu mengajak anak untuk berani menyampaikan apa saja pesan moral yang diperolehnya dari kisah-kisah dalam gim Kabi Kisah Teladan Nabi, seperti sikap pantang menyerah, kejujuran, dan kebaikan terhadap sesama. Berikan contoh nyata kepada si kecil  Untuk menumbuhkan kesadaran sosial anak, orang tua harus memberi contoh nyata kepada si kecil. Misal, orang tua mencontohkan sikap tolong-menolong, dan mengucapkan permintaan maaf jika ada kesalahan kata atau perbuatan. Beri waktu si kecil untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya Cara menumbuhkan kesadaran sosial anak, yakni memberi waktu si kecil untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Beri mereka kesempatan untuk mengeksplorasi juga bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, sembari menerapkan nilai-nilai dan ajaran yang ada dalam gim Kabi Kisah Teladan Nabi. Kabi Kisah Teladan Nabi bukan sekadar media pendidikan yang menyenangkan, tetapi juga merupakan sarana yang efektif untuk meningkatkan kesadaran sosial anak. Karena seperti yang kita tahu, kesadaran sosial anak memang sudah seharusnya ditumbuhkan sejak usia dini. Dengan dukungan dan bimbingan orang tua, anak-anak pasti bisa tumbuh menjadi individu yang lebih peka, bertanggung jawab, berempati, dan kritis terhadap lingkungan sekitarnya. Mari kita jadikan Kabi Kisah Teladan Nabi sebagai media belajar agama Islam sekaligus sarana untuk menumbuhkan kesadaran sosial anak. Baca juga: 3 Keuntungan Mengunduh Gim Kabi - Kisah Teladan Nabi Sumber referensi: Nur, Hadi. (2023). Filsafat Sains dalam Konteks. Malang: Penerbit Universitas Muhammadiyah Malang. Kesadaran Sosial: Membangun Empati dan Solidaritas dalam Masyarakat. (2024). Tanggal akses: 9 Oktober 2024.

Jumat, 06 Oktober 2023 | Edukasi

Modul Ajar dan RPPH untuk anak usia PAUD - TK kali ini membahas tema Anti - Bullying. Melalui aneka aktivitas yang menyenangkan, siswa akan diajak untuk memahami pentingnya sikap saling menghormati, menyayangi, dan menerima satu sama lain, meski ada perbedaan dan keberagaman di lingkungan sekolah. Siswa juga diajak untuk berpikir kritis tentang kondisi sekitar dan mampu berperilaku yang baik agar mendapatkan perlakuan yang baik dari orang lain. A. Informasi Umum Semester : 1 Kelompok usia PAUD : 4-5 dan 5-6 Tahun Topik: Sekolahku Menyenangkan Sub Topik: Anti-Bullying / Berteman dalam Keberagaman. B. Tujuan Pembelajaran Siswa mampu mensyukuri anugerah Tuhan berupa lingkungan yang aman dan nyaman. Siswa mampu mengerti arti "perundungan" atau "bullying". Siswa mampu mengerti ciri-ciri tindakan bullying dan menghindarinya. Siswa mampu meningkatkan rasa penghargaan terhadap diri sendiri dan orang lain. Siswa mampu belajar mengelola emosi dengan baik. Siswa mampu membuat karya yang berhubungan dengan tema "Anti-Bullying". Siswa mampu belajar kosakata baru dari tema ini. Untuk Mengembangkan Kecerdasan dan Karakter Siswa, Anda bisa Mengajak Siswa Membaca Buku Cetak (Dongeng, Kisah Nabi, dan Aktivitas Anak) karya Bapak Andi Taru dan Tim Educa Studio. Silakan klik DI SINI. C. Deskripsi Kegiatan Siswa menyebutkan tindakan saling menghargai antar teman dan manfaatnya. Siswa menyebutkan ciri-ciri tindakan bullying. Siswa menyebutkan cara menghormati diri sendiri dan orang lain. Siswa menyebutkan cara mengelola emosi dengan baik. Siswa menyebutkan dan menuliskan beberapa kosakata baru yang berhubungan dengan anti bullying Siswa membuat karya yang bertema anti bullying Siswa menyanyikan lagu bertema saling menghargai antar teman. D. Kegiatan Harian 1. SOP Pembiasaan Rutin Harian Pada bagian ini anak didik diajak untuk melakukan SOP pembiasaan rutin harian, yaitu melakukan baris-berbaris di depan kelas, mengucapkan salam, mendaraskan doa, dan menyanyikan lagu mars sekolah. Siswa juga diajak untuk memeriksa kebersihan kuku, kebersihan gigi, kerapian rambut, kerapian pakaian.Beberapa referensi lagu pembuka kelas adalah: Lagu : ANAK YANG BAIKLagu : SAHABAT YANG BAIK Koleksi Lagu Anak (KOLAK) Tematik TK dan PAUD: Lengkap, Asyik, Ramah Anak 2. Kegiatan Pembuka Menonton video tentang : PERUNDUNGAN Siswa menjawab pertanyaan pemantik tentang video yang ditonton, misalnya : Apa hal menarik dari video yang baru saja ditonton? Apa hal baik yang boleh dilakukan untuk menjaga pertemanan? Apa hal buruk yang tidak boleh dilakukan dalam pertemanan? Coba sebutkan cara menghargai barang milik teman! Program Afiliasi Educa menawarkan penghasilan pasif, hanya dengan membagikan kode afiliasi yang kamu miliki. 3. Kegiatan Inti sesuai Kurikulum Merdeka Siswa membuat karya kreatif dan kegiatan praktik yang berhubungan dengan topik, yaitu: Gim “Pelajaran TK dan PAUD" : Media Bermain dan Belajar Karya Bapak Andi Taru dan Tim Educa Studio a. Membuat Craft : Membuat Poster "anti bullying dengan pesan-pesan positif. Membuat buku cerita / komik tentang sikap saling menghargai dalam berteman. Menghias poster tentang anti bullying. b. Bernyanyi dan Melakukan Gerak Lagu Lagu : ANAK YANG BAIK Lagu : SAHABAT YANG BAIK Lagu: ATURAN YUK DIPATUHI c. Lembar Kerja Anak Mewarnai gambar bertema persahabatan. Memilih gambar sikap yang baik dalam berteman. LKA PAUD GRATIS dari Educa Studio: Edukatif dan Praktis d. Aktivitas Bersama Permainan Peran (Role-Playing)Ajak para siswa untuk bermain peran dalam tema Anti-Bullying dan Persahabatan.Ada yang berperan sebagai pelaku perundungan dan korban. Gunakan dialog untuk berpura-pura menjadi pelaku dan korban bully dan mencari solusi untuk menghentikannya. Drama MiniBantu anak-anak untuk menampilkan drama mini tentang situasi bullying dimana karakter-karakter yang terlibat dapat mengatasi masalah tersebut dengan cara positif. e. Kegiatan Menggambar Ajak siswa menggambar dengan teman persahabatan dan kerjasama. f. Membuat Lagu Ajak Siswa membuat lagu-lagu sederhana bertema persahabatan, toleransi dan menghentikan perilaku bullying. g. Games Interaktif Educa Bermain Aplikasi: Marbel Aman di Rumah h. Menonton Video : MELAWAN PERUNDUNGAN Setelah menonton, siswa dapat berdiskusi tentang cara menyikapi jika ada teman yang dibully. Siswa juga bisa diajak untuk berpikir kritis tentang bagaimana menghentikan perilaku bullying. i. Menonton Video Cerita Dongeng Riri : Buaya Kecil Yang Baik Hati Dongeng Riri : TRex Kecil yang Malang j. Kunjungan Tamu : Dapat didatangkan narasumber (psikolog atau yang lain) yang dapat menjelaskan kepada siswa tentang pentingnya menghentikan perilaku bullying dan cara mengatasi masalah ini. k. Pameran Proyek : Dapat diadakan pameran Anti-Bullying PAUD untuk setiap karya yang telah dibuat oleh siswa : poster, gambar, craft, dan lain-lain, selama belajar tentang tema Anti-Bullying. l. Peringatan Anti-Bullying Dapat diadakan agenda peringatan anti-bullying pada hari-hari tertentu menggunakan pita, pin atau penanda yang lain yang bertuliskan pesan-pesan anti bullying. Baca juga:1. Modul Ajar dan RPPH PAUD - TK, Topik : Binatang, Hewan Berkaki Dua - Kurikulum Merdeka Belajar2. Modul Ajar dan RPPH PAUD - TK : Cita-citaku, Kegemaranku - Kurikulum Merdeka Belajar 4. Kegiatan Circle Time Kegiatan interaktif, menyenangkan dan sederhana yang bisa dilakukan antara guru dan anak didik di luar jam pembelajaran ( misal saat break time ) yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka antara lain: a. Berdiskusi Guru bisa memberikan aneka pertanyaan dan instruksi pemantik diskusi antara lain: Bagaimana perasaanmu saat bermain dan belajar di sekolah? Apa mainan favoritmu saat bermain bersama teman? Apa hal baik yang pernah kamu lakukan kepada temanmu? Kalau ada temanmu yang diejek, kamu harus bagaimana? b. Beraktivitas Guru bisa meminta orang tua siswa untuk melakukan aktivitas bersama siswa, misalnya mewarnai gambar atau membuat kolase bertema persahabatan atau sikap saling menghormati. Beberapa aktivitas bisa dipilih dan telah tertulis di Modul Ajar. Berikut ini adalah beberapa aktivitas siswa yang bisa dilakukan bersama: Bermain gim edukasi Pelajaran TK dan PAUD. Belajar literasi numerik dengan gim edukasi: Marbel Angka. Bermain literasi dengan gim edukasi : Marbel Membaca. Memperagakan gerak lagu : Tiga Kata Ajaib. Semoga Modul Ajar dan RPPH dengan topik "Anti-Bullying" ini bermanfaat untuk menjadi panduan guru dalam mengajar anak-anak PAUD di Indonesia. Semangat mengajar, jaya selalu guru PAUD Indonesia! Sumber Referensi: 1. Freepik.com. (2022). Children holding hand group [1]          

Kamis, 17 Agustus 2023 | Edukasi

Sifat polos Si Kecil membuatnya mudah berteman dengan siapa saja. Namun, Ayah dan Bunda perlu mengarahkan Si Kecil, agar ia bisa bersikap bijak dalam berteman. Dilansir dari Sparktheirfuture.qld.edu.au, dijelaskan bahwa pertemanan membantu anak-anak mengembangkan keterampilan sosial mereka. Anak-anak yang mengembangkan keterampilan hidup (life skills), seperti cara bekerja sama dengan orang lain dan mengelola konflik, cenderung tidak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dan pengelolaan emosi di kemudian hari. Pertemanan yang baik pasti bisa memberikan pengaruh yang positif bagi aneka karakter dan keterampilan Si Kecil. Pola asuh yang tepat perlu dimiliki oleh Ayah dan Bunda dalam mengarahkan pergaulan Si Kecil. Inilah beberapa tips parenting untuk mengarahkan Si Kecil agar ia bisa memiliki cyrcle pertemanan yang baik. 1. Memberikan Pemahaman akan Pentingnya Berteman dengan Kesamaan Hobi Teman dengan hobi atau kegemaran yang sama memungkinkan Si Kecil untuk bisa saling belajar dan berbagi ilmu atau pengalaman dengan teman tersebut. Ayah dan Bunda bisa menyarankan Si Kecil untuk bergabung di dalam suatu komunitas, sanggar, atau tempat kursus yang bisa menjadi tempat bagi Si Kecil untuk berelasi, berinteraksi, dan belajar sesuai dengan minat, bakat, atau kegemarannya. Namun, Tentu saja Ayah dan Bunda juga perlu memberikan pengertian bahwa dalam pergaulan sehari-hari, ia tidak boleh pilih-pilih teman, apalagi tidak menyukai teman hanya karena suatu perbedaan hobi, agama, ras, dan lainnya. Lagu Anak: ALAT MUSIK, Menginspirasi Anak agar Memiliki Teman dengan Kesamaan Hobi dan Bisa Saling Melengkapi.   2. Menyarankan Si Kecil agar Bersikap Ramah dan Murah Senyum Anak yang ramah bisa memberikan kenyamanan bagi teman-temannya. Sikap ramah perlu dilengkapi dengan raut wajah yang ceria dan murah senyum. Sikap yang demikian akan membuat Si Kecil akan mudah diterima dalam pergaulan. Ia tidak perlu memilih sahabat yang baik bagi dirinya. Namun, ia mampu menjadi sahabat yang baik bagi banyak teman. Baca juga: 7 Tips Agar Anak Terampil Berbicara dengan Tata Bahasa yang Baik  3. Memberikan Pengertian Makna Sahabat dan Pentingnya Menjadi Teladan Dengan memiliki sahabat, Si Kecil akan lebih banyak memiliki kesempatan untuk mengembangkan aneka keterampilan hidup. Ia bisa semakin optimal bertumbuh menjadi anak yang berkarakter, percaya diri, mandiri, dan bangga pada diri sendiri. Sahabat yang baik juga bisa memotivasinya agar ia tumbuh menjadi anak yang berempati, bisa menerima perbedaan, dan peduli pada sesama. KABI (Kisah Nabi): ANAK BERBAKTI, Kisah Nabi yang Mengajarkan Anak untuk Berbakti pada Orang Tua. 4. Mengajarkan Cara Mengidentifikasi Teman Pergaulan atau teman yang berkepribadian kurang baik, tentu saja bisa mempengaruhi pertumbuhan karakter Si Kecil. Ayah dan Bunda perlu memberikan tips tentang cara mengidentifikasi teman, agar ia tidak salah pergaulan. Beberapa teman yang perlu dihindari adalah teman yang suka membully, mudah marah, suka bermalas-malasan, dan yang suka melakukan kebiasaan negatif lainnya. Menghindari teman yang memiliki kebiasaan negatif bukan berarti meminta Si Kecil untuk membencinya. Ayah dan Bunda perlu menyarankan kepada Si Kecil untuk menjaga jarak. Bila ada teman yang melakukan hal yang kurang terpuji, Ayah dan Bunda bisa menyarankan Si Kecil agar meminta guru kelas menegurnya atau menasihatinya. Baca juga: 6 Alasan Mengapa Anak Perlu Memiliki Sahabat Dekat, Orang Tua Harus Tahu!  5. Mengingatkan Si Kecil agar Tidak Mengatakan Hal Negatif Di Belakang Sahabatnya Sahabat yang baik adalah ia yang selalu menginginkan kita tumbuh menjadi pribadi yang baik. Bila Si Kecil memiliki sahabat, ingatkan kepada Si Kecil agar berani menasihatinya secara langsung, bila sahabatnya melakukan suatu kesalahan. Membicarakan hal buruk tentang perilaku negatif sahabat bisa menimbulkan persoalan baru, hilangnya kepercayaan, dan memburuknya suatu hubungan. Dongeng RIRI: Asal Mula Permusuhan Anjing & Kucing. Mengajarkan Pentingnya Bersikap dan Berkata-kata yang Baik kepada Sahabat 6. Memberikan Pengertian bahwa Keluarga Tetap Menjadi Prioritas Saat Si Kecil sakit atau saat Si Kecil mengalami persoalan yang berat, Ayah dan Bunda adalah satu-satunya harapan bagi Si Kecil untuk bisa mendapatkan pertolongan. Walaupun Si Kecil memiliki sahabat, berikan pengertian kepada Si Kecil bahwa keluarga tetap menjadi prioritas. Ajarkan kepada Si Kecil agar ia bisa membagi waktu dengan baik, kapan ia bisa bermain bersama sahabatnya, kapan ia harus memberikan waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Dorong Si Kecil untuk bisa lebih terbuka untuk menceritakan aktivitas-aktivitas harian atau persoalan yang sedang ia hadapi kepada Ayah dan Bunda. Jangan biarkan Si Kecil bersikap terlalu tertutup kepada Ayah dan Bunda. Namun, ia malah lebih terbuka bercerita banyak hal kepada sahabatnya. KABI (Kisah Nabi): Membantu Membangun Karakter Anak agar Memiliki Akhlak Mulia.   Teman yang selalu bisa berperilaku dan berkata-kata yang positif tentu bisa memberikan dampak yang positif bagi perkembangan Si Kecil. Ayo, bantu Si Kecil agar ia bisa selalu berada di dalam cyrcle pertemanan yang positif. Sumber Referensi: 1. Sparktheirfuture.qld.edu.au. (2022). Five ways positive friendships can help your child at school and in life [1] 2. Freepik.com. (2023). Kindergarten teacher playing with children [2]

Rabu, 25 Januari 2023 | Parenting

Dilansir dari e-journal.unair.ac.id, Soliha SF mengatakan bahwa, "Orang-orang yang menggunakan media sosial sekarang bebas untuk berkomunikasi dan berbagi informasi. Berita apapun satu sama lain bisa terpublikasikan tanpa memikirkan kendala seperti biaya, jarak, dan waktu." Di media sosial mungkin kita pernah menonton video tentang seorang influencer yang berkata-kata kurang sopan. Tidak jarang video-video tersebut memperoleh ratusan ribu bahkan jutaan views. Maka, tidak dapat dipungkiri juga bahwa video-video tersebut juga ditonton oleh anak-anak Indonesia. Tentu saja video tersebut bisa mempengaruhi perilaku anak, terutama dalam penggunaan kata-kata saat berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Video atau konten di media sosial hanyalah salah satu penyebab dari perubahan perilaku anak-anak, terutama dalam hal sopan santun berbicara. Bagaimana cara mencegah agar sang buah hati tidak mudah berkata-kata yang kurang sopan serta tidak enak didengar? Yuk, kita simak caranya! 1. Bersikap Tenang dan Sabar Ayah dan Bunda perlu bersikap tenang dan sabar bila melihat atau mendengar si kecil berkata-kata yang kurang sopan. Hindari reaksi yang terlalu berlebihan, misalnya bersikap marah-marah, kaget, dan terlihat begitu cemas. Beberapa anak melakukan hal yang kurang baik hanya karena ia ingin mendapatkan perhatian dari orang tua. Ayah dan bunda bisa mengambil waktu atau kesempatan yang tepat untuk menasehati si kecil agar tidak mengulangi perbuatannya lagi. 2. Menasihati dengan Cara yang Baik Ada beberapa hal penting yang perlu Ayah dan Bunda perhatikan saat menasihati si kecil. Beberapa diantaranya adalah: Menggunakan bahasa yang lembut, menghindari berteriak, berkata-kata yang baik, dan berikan sentuhan pada bagian kepala atau bahu si kecil. Saat memanggilnya, Ayah dan Bunda disarankan untuk memanggil namanya. Berikan kesempatan pada si kecil untuk berbicara juga. Menasihati anak terkadang bisa dilakukan bukan setelah anak berbuat suatu kesalahan. Namun, bisa juga dilakukan di dalam kehidupan sehari-hari. Ayah dan Bunda bisa menasihati atau menanamkan nilai-nilai kebaikan di saat mendampingi si kecil bermain. Salah satunya adalah dengan media dongeng dalam bentuk podcast. Koleksi dongeng RIRI, yang diproduksi oleh Bapak Andi Taru dan tim Educa Studio adalah salah satunya. Klik gambar di bawah ini untuk mendapatkan koleksinya! 3. Mencari Informasi tentang Alasan Ia Berkata Kasar Beberapa faktor yang menyebabkan anak berkata kasar antara lain: Pengaruh dari luar, misalnya pergaulan atau media informasi / komunikasi. Ingin mendapatkan perhatian dari orang tua. Ingin mendapatkan pengakuan dari teman-temannya, misalnya dianggap anak yang gaul atau keren. Ingin dianggap bahwa ia adalah anak yang sudah dewasa. Mengalami gangguan emosional (marah, depresi, sedih, dan lainnya). Untuk mengetahui lebih jelas tentang penyebabnya, Ayah dan Bunda bisa berkonsultasi dengan guru di sekolah atau para ahli anak. Setelah tahu akar permasalahannya, Ayah dan Bunda akan lebih mudah dalam menemukan jalan keluarnya. Kata 'tolong', 'maaf', dan 'terima kasih' atau yang biasa disebut sebagai tiga kata ajaib adalah kata-kata yang baik untuk diucapkan. Agar anak terhindari dari kata-kata yang kurang sopan, Ayah dan Bunda bisa mengajarkan banyak kata-kata yang positif, tiga kata ajaib adalah beberapa contohnya. Ajarkan pada anak dengan sebuah lagu dari Educa Studio yuk! 4. Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak Untuk mengembangkan kecerdasan emosional anak, Ayah dan Bunda bisa membantunya dengan: Membangun rasa empatiAjarkan kepada si kecil tentang pentingnya memahami perasaan orang lain. Tanamkan padanya bahwa kata-kata yang tidak sopan bisa membuat diri kita dan orang lain merasa tidak nyaman. Kemudian, ajarkan padanya bahwa berkata-kata yang sopan bisa membuat segalanya sesuatu menjadi baik, meskipun saat kita ada dalam suatu persoalan dengan orang lain. Mengontrol emosiAjarkan kepada si kecil tentang cara mengontrol emosi, terutama saat ia merasa akan marah atau mengalami kecemasan yang berlebihan. Ayah dan bunda bisa mengajarkannya cara mengatur nafas untuk menenangkan diri, atau berusaha untuk tidak berkata-kata saat hati sedang gundah atau marah. Salah satu cara lainnya adalah dengan beraktivitas yang positif, saat hati sedang tidak tenang. Mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baik adalah salah satu cara mengembangkan kecerdasan emosional. Ayah dan Bunda bisa mengajarkan aneka kebiasaan baik kepada anak dengan sebuah aplikasi gim di bawah ini. 5. Menjadi Teladan yang Baik Dalam kehidupan sehari-hari Ayah dan Bunda perlu membiasakan diri untuk berbicara dengan kata-kata yang baik dan nada bicara yang nyaman untuk didengar. Kebiasaan di rumah sangat mempengaruhi kebiasaan si kecil saat berada di lingkungan yang berbeda. 6. Membacakan Dongeng Pembangun Karakter Dongeng anak ternyata sangat bermanfaat untuk mengedukasi si kecil agar mampu berkata-kata yang baik dan sopan. Ayah dan bunda bisa membacakan buku-buku dongeng pembangun karakter dengan nada bicara yang baik. Ajaklah si kecil untuk berdiskusi tentang isi dongeng dengan bahasa yang santun. Dalam kehidupan sehari-hari, si kecil akan terbiasa untuk menyelesaikan suatu persoalan dengan cara yang sopan dan kekeluargaan. Baca juga: 1. Riri Cerita Anak Interaktif Kini Hadir Dalam Bentuk Podcast. 2. Tips Menulis Materi Dongeng Menarik untuk Anak PAUD 7. Batasi Penggunaan Media Komunikasi Beberapa batasan yang perlu diterapkan kepada si kecil dalam hal penggunaan media komunikasi antara lain: Membatasi lama waktu penggunaan media komunikasi untuk mencegah kecanduan dan sikap anti-sosial. Membatasi usia di dalam menu setting setiap media sosial atau platform lain yang digunnakan anak. Pastikan Anda membantu memilihkan menu "for kids" atau sejenisnya, agar konten yang muncul adalah yang ramah anak. Membatasi konten yang dikonsumsi. Konten-konten edukasi perlu lebih diutamakan. Membatasi pemanfaatan media komunikasi, yaitu hanya digunakan sebagai media produksi dan mencari informasi yang bersifat positif. Mau si kecil tumbuh jadi anak yang makin kreatif dan produktif? Ayah dan Bunda bisa mengajak sang buah hati di kelas kreatif Gamelab.id. Cara gabungnya, silakan klik gambar di bawah ini! 8. Memberikan Penghargaan untuk Setiap Perkembangan yang Positif Ayah dan Bunda disarankan untuk tidak hanya memberikan peringatan kepada si kecil, saat ia berbuat sesuatu kesalahan. Namun, Ayah dan Bunda bisa memberikan suatu penghargaan saat si kecil mengalami perkembangan yang positif atau melakukan hal-hal yang baik. Penghargaan bisa dalam bentuk barang, atau bisa juga dalam bentuk pujian maupun tepukan lembut pada kepala serta bahu dan pelukan hangat. Kasih sayang yang lembut serta tulus bisa membuat anak terhindar dari emosi yang tidak terkontrol dan segala persoalan yang bersifat emosional. Jangan lupa untuk selalu menunjukkan perhatian-perhatian yang kecil, dengan mengucapkan salam, menyapa si kecil, dan lainnya. Meskipun sederhana, hal itu juga bisa mencegah si kecil berbuat sesuatu yang tidak baik, termasuk berkata-kata yang kurang sopan. Semoga si kecil tetap tumbuh menjadi anak yang berhati mulia yang mampu berkata-kata serta berperilaku yang layak untuk menjadi teladan. Baca juga: 1. Peran Orang Tua dalam Pengembangan Literasi Anak Usia Dini 2. 6 Cara Menyenangkan untuk Mengasah Kosakata Anak Sumber Referensi: 1. Soliha, SF. (2015). Tingkat Ketergantungan Pengguna Media Sosial dan Kecemasan Sosial. Jurnal Interaksi 4 [1] 2. Freepik.com. (2022). Portrait asian boy standing closed his mouth [2] 3. Freepik.com. (2022). Serious dad looking after children while working home [3]

Senin, 05 September 2022 | Parenting

Keterampilan sosial adalah salah satu keterampilan yang sangat penting dimiliki oleh seorang anak sejak usia dini. Anak yang memiliki keterampilan sosial yang baik akan cenderung lebih mudah diterima di dalam suatu lingkungan, terlihat bahagia, dan lebih bersemangat. Amy Morin, seorang psikoterapis, mengatakan bahwa keterampilan sosial membutuhkan penyempurnaan yang berkelanjutan seiring dengan pertumbuhan anak-anak. Memang, setiap anak memiliki keterampilan ini. Namun, keterampilan ini bisa dipelajari dan diperkuat dengan usaha dan latihan. Lalu apa saja jenis keterampilan sosial yang perlu diperkuat dan dipelajari oleh anak di usia dini? Simak artikel ini! 1. Keterampilan Menjalin Komunikasi Keterampilan ini berhubungan dengan kemampuan berpendapat, kemampuan mendengarkan, kesabaran dalam memberi kesempatan orang lain berbicara, dan sikap santun dalam berbicara. Untuk mengembangkan keterampilan menjalin komunikasi, orang tua perlu aktif dalam menjalin komunikasi dengan anak setiap hari, misalnya dengan menanyakan hal-hal sederhana kepada anak tentang aktivitas yang sudah dilalui dalam sehari. Anda perlu mengatakan dengan nada suara yang lembut dan penuh kasih sayang. Saat anak menjawab dan bersedia bercerita, orang tua perlu mendengarkan cerita anak dengan sungguh-sungguh. Anda juga tidak boleh menyela saat anak berbicara. Saat ada kesempatan, Anda bisa merespon dengan bertanya atau menanggapi cerita anak secara positif dan penuh semangat. 2. Keterampilan Berbagi dan Membantu Sesama Ajarkan kepada anak bahwa berbagi dan membantu sesama bisa membuat orang lain merasa bahagia. Saat membuat orang lain merasa bahagia, maka pemberi bantuan juga akan merasakan kebahagiaan. Katakan pula kepada anak bahwa saat seseorang memberi dengan setulus hati, ia akan mendapatkan pahala atau berkat dari Tuhan. Berikan pula teladan yang baik dengan mengajak anak berkunjung dan memberikan donasi ke panti asuhan atau melakukan kegiatan amal kasih dengan cara berbagi makanan pada orang-orang yang kurang beruntung. Dalam kehidupan sehari-hari, Anda juga perlu untuk siap membantu anak dengan penuh kesabaran dan ketulusan saat anak mengalami kesulitan. 3. Keterampilan Bekerja Sama Sebelum mengajari anak praktik melakukan kerja sama, tanamkan dalam diri anak bahwa bekerja sama bisa membuat suatu pekerjaan yang sulit dan berat menjadi lebih mudah dan ringan. Dengan bekerja sama, suatu pekerjaan juga akan lebih cepat selesai dengan kualitas yang baik. Selain itu, kerja sama juga bisa menciptakan suasana kerukunan karena adanya interaksi dengan orang lain. Agar anak bisa memiliki pengalaman bekerja sama, orang tua perlu membiasakan aktivitas kerja bakti di tengah keluarga, misalnya dengan cara menyiram tanaman bersama, membersihkan ruangan bersama, dan sebagainya. Contoh lain misalnya saat Anda meminta anak untuk merapikan buku, Anda perlu tetap hadir dan membantunya meski anak mampu merapikannya sendiri. Hal ini dilakukan agar terciptanya suasana kebersamaan dan hubungan baik antara orang tua dan anak. 4. Mengikuti Perintah Keterampilan ini juga akan mengembangkan sikap taat atau patuh pada sosok otoritas dalam suatu lingkungan, misalnya di sekolah atau di dalam suatu komunitas. Agar anak bisa tulus dan terampil dalam menaati perintah, Anda bisa membuat strategi saat memberikan perintah kepada anak, yaitu: a) Memberikan beberapa perintah dalam satu kalimat Anda bisa memberi perintah dengan mengatakan, “Nak, Mama minta tolong. Masukkan kaus kakimu ke dalam sepatu, lalu masukkan sepatumu ke dalam rak sepatu, ya.” Katakan dengan nada suara yang baik, tidak ada maksud untuk menyalahkan anak, dan berikan apresiasi dengan memuji anak saat ini bersedia mematuhinya. b) Memberikan perintah dengan pertanyaan Agar suatu perintah terdengar lebih halus, orang tua bisa memberi perintah dengan pertanyaan. Anak juga akan mendapatkan kesempatan untuk berpikir dan berefleksi saat Anda memberikan perintah dengan pertanyaan. Misalnya dengan mengatakan, “Nak... Hal tidak baik apa yang bisa terjadi kalau sepatu dan kaus kakimu berserakan di sana?” Bila anak masih belum memahami, orang tua bisa mengulang kembali dengan pertanyaan, “Agar sepatumu tidak terinjak serta bisa mencelakai orang lain, bisakah meletakkan sepatumu di rak sepatu?” 5. Menghargai Diri Sendiri dan Orang Lain Sikap menghargai diri sendiri bisa membuat anak merasa lebih percaya diri. Bila anak sudah bisa menghargai diri sendiri tanpa mengabaikan sikap rendah hati, ia juga akan lebih mudah menghargai orang lain. Ketekunan orang tua dalam mengapresiasi setiap perilaku baik atau hasil yang telah dicapai anak akan menentukan seberapa besar kemampuan anak dalam menghargai dirinya sendiri. Pujilah setiap anak melakukan kebaikan-kebaikan. Hargailah setiap prestasi anak, dan jangan hanya terfokus pada nilai akademis yang dicapai anak. Orang tua perlu memberikan apresiasi misalnya ketika anak bisa menyiapkan peralatan sekolah secara mandiri, mengerjakan tugas sekolah tanpa dibantu, atau saat anak berani untuk tampil di depan kelas. Kebiasaan orang tua dalam menghargai setiap perkembangan anak dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan anak, akan menjadi teladan bagi anak dalam menghargai teman sebayanya. 6. Sikap Tulus dalam Menerima Kritik Orang yang bisa bersikap tulus dan berlapang dada dalam menerima kritik, ia akan memperbaiki serta belajar dari kesalahannya dan lebih memiliki niat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Saat memberikan kritik, agar lebih mudah diterima anak orang tua perlu mengawali dengan kalimat berikut ini:a) “Kalau boleh Mama memberikan saran, … .”b) “Apa yang kamu lakukan sudah cukup baik, namun alangkah lebih baik jika … .” Orang tua yang terbiasa memberikan kritik dengan kata-kata yang sopan dan nada bicara yang baik akan membantu anak belajar menyampaikan kritik yang baik kepada teman sebayanya. Saat orang tua membuat suatu kesalahan, orang tua juga perlu belajar bersikap sabar bila mendapatkan kritik dari sang buah hati. Hal ini akan menjadi teladan yang baik baginya agar bisa menerima kritik dengan lebih sabar dan ikhlas. Bimbinglah anak Anda dalam kehidupan sehari-hari dengan keterampilan-keterampilan di atas. Berikan kesempatan juga bagi anak untuk bisa berinteraksi dengan sesama serta teman sebaya. Dengan memiliki keterampilan sosial yang baik, semoga anak Anda akan semakin memiliki banyak teman, semakin bahagia, serta memiliki kehidupan sosial yang baik. Sumber Referensi        1. Warneken F, Lohse K, Melis AP, Tomasello M. (2010). Young children share the spoils after collaboration [1]        2. Morin. A. (2022). Seven social skills for kids. [2]        3. Candler. L. (2021) How to teach social skills step by step. [3]