Top
Rabu, 24 Agustus 2022 | Parenting

Kedisiplinan siswa sangat berperan penting dalam peningkatan prestasi akademik. Stratfordjournals.org melalui sebuah penelitian di sebuah sekolah di Rwanda mengungkapkan bahwa ada hubungan erat antara kedisiplinan dan prestasi akademik siswa. Dalam penelitian ini terungkap bahwa tingkat kehadiran siswa ke sekolah dan tingkat kepatuhan siswa pada aturan yang berlaku, sangat mempengaruhi prestasi siswa secara akademik. Hal ini tentu juga perlu menjadi perhatian orang tua. Agar bisa tumbuh menjadi anak yang disiplin, perlu ada pembiasaan-pembiasaan perilaku disiplin mulai dari rumah. Bagaimana menumbuhkan karakter disiplin anak di rumah? 1. Pembiasaan yang Terstruktur Orang tua perlu membantu anak dalam membuat jadwal harian. Hal ini perlu dilakukan agar anak terbiasa dengan rutinitas tersebut. Anak menjadi paham tentang apa yang perlu dilakukan di waktu yang telah ditentukan. Anak juga semakin mengerti tentang aktivitas apa yang menjadi prioritas untuk dilakukan dan aktivitas apa yang bisa ditunda. Contoh rutinitas pagi yang baik adalah sarapan, menyikat gigi, dan mengenakan pakaian. Sedangkan contoh rutinitas sepulang sekolah adalah tentang bagaimana anak-anak membagi waktu mereka antara mengerjakan tugas sekolah, tidur siang, bermain dan melakukan kegiatan yang menyenangkan lainnya. Bila anak bisa melakukan rutinitas kegiatan harian dengan baik, ia juga akan tidur lebih tenang dan nyenyak. Orang tua perlu membuat jadwal rutinitas yang sederhana, agar suatu saat anak bisa menerapkan rutinitasnya dengan semakin sedikit pendampingan, hingga ia bisa melakukannya secara mandiri. 2. Memberikan Penjelasan tentang Aturan yang Dibuat Keberadaan aturan juga sangat penting. Aturan bisa membuat anak terbiasa melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Jangan lupa memberikan penjelasan tentang alasan mengapa aturan itu perlu ada dan wajib dipatuhi. Misalnya saat orang tua membuat aturan bahwa anak harus sudah tidur sebelum jam 10.00 malam. Orang tua perlu memberikan penjelasan kalau tidur di atas jam 10.00 bisa mengakibatkan keterlambatan bangun tidur di pagi hari. Tentu saja hal ini bisa mengakibatkan anak menjadi terlambat datang ke sekolah. 3. Menjelaskan Konsekuensi dari Suatu Perbuatan secara Logis Memaksa anak untuk melakukan sesuatu, tidak akan mengajarkan kedisiplinan diri. Orang tua bisa memberikan penjelasan tentang konsekuensi logis yang akan terjadi bila seorang anak tidak melakukan suatu hal yang semestinya. Misalnya saat anak bermain gadget terlalu lama, orang tua perlu menjelaskan konsekuensi dari bermain gadget terlalu lama, yaitu bisa mengakibatkan kelelahan mata, sakit kepala, dan rusaknya mata. Saat anak mulai mengeluh bahwa kepalanya pusing, orang tua bisa menjelaskan kepada sang anak bahwa itu adalah salah satu akibat dari bermain gadget terlalu lama. Ia pasti akan lebih mampu mengingatnya dan mengubah perilakunya untuk bermain gadget sesuai dengan aturan yang telah disepakati. 4. Membentuk Perilaku dalam Satu Langkah Agar anak semakin mudah dalam menerapkan disiplin, pendampingan dan bantuan orang tua sangatlah diperlukan. Sebagai contoh saat membantu anak dalam melakukan rutinitas di pagi hari. Orang tua bisa membantu dengan menampilkan (atau menempelkannya di dinding kamar) gambar atau foto anak saat menyisir rambut, menggosok gigi, dan mengenakan pakaiannya. Tempelkan gambar tersebut di kamar anak, mulai saat usia 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, dan seterusnya. Anak bisa melihat sendiri perkembangannya dalam melakukan aktivitas tersebut, mulai dari saat masih dibantu orang tua, hingga ia bisa melakukannya secara mandiri dan dengan ketrampilan yang semakin baik. 5. Mengajarkan Keterampilan Pemecahan Masalah Keterampilan untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan disiplin diri juga perlu diajarkan kepada anak. Kadang orang tua perlu bertanya kepada anak tentang apa yang perlu mereka lakukan saat mengalami suatu permasalahan. Hal ini bisa membantu anak untuk berpikir dan dapat mengarah pada solusi yang kreatif. Salah satu contoh adalah saat anak membiarkan mainannya berserakan setalah ia usai memainkannya. Tanyakan kepada anak, "Apa kemungkinan yang bisa terjadi, bila mainan ini dibiarkan berserakan dalam jangka waktu lama?" Bila anak belum memahami, orang tua bisa memberikan pertanyaan lainnya, misalnya, "Apa yang akan terjadi bila suatu saat Mama sedang terburu-buru, lalu secara tidak sengaja menginjak salah satu mainanmu?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membantu anak dalam mengingat kesalahan yang telah dilakukan, sehingga ia semakin memahami alasan mengapa harus melakukan disiplin diri. Tentu saja supaya tidak merugikan diri sendiri atau orang lain.Pembentukan karakter disiplin memerlukan proses dan waktu yang tidak singkat. Pendampingan orang tua sangat dibutuhkan agar karakter ini benar-benar bisa tumbuh dalam pribadi anak. Saat memberikan pendampingan, orang tua perlu menjadi "role-model" bagi sang buah hati. Sebab, teladan orang tua bisa meningkatkan semangat anak dalam mengembangkan karakter disiplin dan karakter baik lainnya. Orang tua juga perlu memberikan pujian dan penghargaan kepada anak saat ia menunjukkan perkembangan ke arah lebih baik. Pujian dengan tulus dan penghargaan berupa pelukan atau usapan lembut di kepala anak adalah perbuatan sederhana namun bisa menjadi motivasi anak untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sumber Referensi Morin, A. (2021). 8 ways to teach kids self-discipline skills [1] Innocent, S., Andala.H.O (2021). Relationship between students’ discipline and academic performance in secondary schools in rwanda [2]

Minggu, 28 Agustus 2022 | Parenting

Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dan lingkungan sosialnya sebagai sarana untuk bersosialisasi. Agar kita bisa bersosialisasi dengan baik, rasa empati sangatlah dibutuhkan. Seorang antropolog, Gwen Dewar, Ph.D, mengatakan bahwa rasa empati bukanlah sesuatu kelebihan atau kelemahan seseorang. Empati juga bukanlah suatu sifat yang berkembang secara otomatis tanpa adanya pengaruh dari lingkungan. Pengalaman pribadi, latar belakang budaya, dan pola asuh di lingkungan keluarga sangat mempengaruhi perkembangan perilaku atau sikap empati seorang anak. Di era digital seperti sekarang, anak-anak sudah tidak terpisahkan lagi dari penggunaan gadget. Saat menggunakan gadget, anak cenderung sibuk dengan dirinya sendiri, apalagi bila orang tua kurang mendampinginya. Keluarga, sebagai lingkungan atau komunitas terkecil di dalam masyarakat, memiliki peran yang besar dalam perkembangan karakter dan sifat empati seorang anak. Ketergantungan anak pada perangkat gadget akan sangat menghambat perkembangan sifat empati anak, termasuk sifat-sifat baik lainnya. Bila dibiarkan, hal ini dapat menurunkan keterampilan bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama. Padahal, keterampilan bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain sangat mendukung kesuksesan anak di masa depan. Bagaimana mengasah karakter anak agar memiliki jiwa empati di era digital? Simak tipsnya berikut ini! 1. Mengajarkan Kepedulian kepada Sesama Kepedulian kepada sesama bisa ditumbuhkan dengan cara mengajak anak berkunjung ke panti asuhan, berbagi makanan kepada sesama yang kurang mampu, menyumbang pada korban bencana alam, ataupun kegiatan sosial lainnya. Secara psikologis, anak akan belajar menjadi pribadi yang berbelas kasih dan tidak hanya mementingkan kepentingan sendiri. 2. Membimbing Anak Cara Bersikap Sopan Sejak dini, ajarkan anak menyapa atau memberi salam terlebih dahulu, terutama kepada orang yang lebih tua. Orang tua juga perlu memberi contoh dengan cara menasihati anak saat berbuat salah dengan cara yang baik, sehingga anak akan memahami cara berbicara yang bisa memberikan rasa nyaman kepada sesama. 3. Meluangkan Waktu untuk Berbagi Cerita Orang tua juga perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah dan cerita anak. Agar anak bisa bersikap terbuka untuk berbagi cerita, orang tua bisa membuka pembicaraan dengan pertanyaan, "Bagaimana perasaanmu saat ini?" atau "Apa yang kamu rasakan saat berada di sekolah?". Setelah itu orang tua bisa memberikan tanggapan, bisa berupa nasihat atau masukan. Hal ini bisa mengembangkan keterampilan anak dalam mendengarkan orang lain dan berempati kepada sesama, terutama kepada orang terdekat. 4. Membiasakan Anak untuk Bergaul dan Bersosialisasi Berikan motivasi kepada anak agar mau bermain bersama teman sebaya, paling tidak dengan anak-anak tetangga. Anak juga perlu diajak ketika mengunjungi saudara, atau saat menerima undangan acara keluarga. Pembiasaan ini bisa menumbuhkan keterampilan berbicara dan berperilaku yang baik saat berinteraksi dengan sesama. 5. Mengajarkan Sikap Empati dengan Media Menarik Mengajarkan sikap empati juga bisa dilakukan dengan menggunakan media yang menarik. Di era digital, ada banyak sekali platform yang menyuguhkan dongeng animasi, lagu edukasi, atau film anak yang bisa membantu menumbuhkan sikap empati anak. Salah satu cara menumbuhkan sikap empati anak melalui penggunaan gadget adalah dengan merekomendasikan gim-gim edukasi. Saat memainkan gim edukasi, anak tidak hanya mendapatkan hiburan namun juga pengetahuan serta pengembangan karakternya. Gim-gim edukasi yang diproduksi Educa Studio bisa menjadi pilihan. Selain bisa diunduh secara gratis, gim-gim dari Educa Studio juga menarik dan menyenangkan. Beberapa contoh gim yang bertemakan pengembangan kebiasaan baik untuk anak misalnya, “Marbel Kebiasaan Baik” dan “Marbel Anak Muslim (Islami)”. Saat memainkan gim-gim ini, anak-anak akan belajar mengembangkan kebiasaan baiknya, termasuk rasa empati kepada sesama. Meski anak bermain gim edukasi, orang tua tetap harus melakukan pendampingan dan mewaspadai ketergantungan anak pada gadget. Ajarkan anak untuk mengatur jadwal penggunaan gadget-nya. Selain itu, orang tua juga perlu menekankan bahwa penggunaan gadget hanya untuk aktivitas yang bermanfaat. Sumber Referensi:           1. Dewar, G. (2020). Teaching empathy: Evidence-based tips for fostering empathic awareness in children [1]           2. Cullins, A. (2019). Key strategies to teach children empathy [2]